KONGKOW – Babak play-off leg kedua Liga Champions UEFA 2025/2026 benar-benar menjadi panggung dramatis bagi wakil Italia. Dari empat klub Serie A yang tampil, hanya Atalanta yang berhasil menembus babak 16 besar, sementara Inter Milan dan Juventus harus menelan pil pahit, menyusul kegagalan Napoli lebih dulu di fase grup. Hasil ini menjadi tamparan keras bagi sepak bola Italia, yang sempat berharap banyak pada dominasi klub-klubnya di Eropa.
Inter Milan, yang tengah perkasa di Serie A, justru tak berdaya di hadapan Bodo/Glimt. Bermain di San Siro, Inter kalah 1-2 dan tersingkir dengan agregat 2-5. Gol Alessandro Bastoni di menit ke-76 hanya menjadi pelipur lara, karena dua gol Jens Petter Hauge dan Hakon Evjen memastikan tim asal Norwegia itu melenggang ke babak berikutnya. San Siro malam itu seakan menjadi saksi bisu runtuhnya ambisi Inter di Eropa.
Kekalahan Inter terasa ironis. Sebagai pemuncak klasemen Serie A, mereka diharapkan membawa bendera Italia lebih jauh di Liga Champions. Namun, Bodo/Glimt tampil penuh determinasi, memanfaatkan setiap celah pertahanan Inter. Hasil ini menunjukkan bahwa reputasi besar tidak cukup tanpa konsistensi di panggung Eropa.
Juventus pun mengalami nasib serupa. Bermain di Allianz Stadium, mereka sempat menyalakan harapan dengan kemenangan 3-0 atas Galatasaray. Manuel Locatelli, Federico Gatti, dan Weston McKennie membawa Bianconeri unggul hingga waktu normal. Namun, drama terjadi di perpanjangan waktu. Galatasaray mencetak dua gol krusial melalui Victor Osimhen dan Bans Alper Yilmaz, membuat agregat berakhir 5-2 untuk wakil Turki.
Kegagalan Juventus terasa lebih menyakitkan karena mereka sudah begitu dekat dengan tiket 16 besar. Dukungan publik Turin yang bergemuruh seakan terhenti seketika ketika Galatasaray membalikkan keadaan. Juventus, yang dikenal sebagai tim dengan mental juara, kali ini tak mampu menjaga fokus di momen krusial.
Di tengah kekecewaan itu, Atalanta justru tampil sebagai penyelamat wajah Serie A. Menghadapi Borussia Dortmund, mereka bangkit dari kekalahan 0-2 di leg pertama. Di Stadion New Balance, Atalanta menang telak 4-1, memastikan agregat 4-3. Gianluca Scamacca membuka pesta gol di menit ke-5, disusul Davide Zappacosta, Mario Pasalic, dan Lazar Samardzic. Dortmund hanya mampu membalas lewat Karim Adeyemi.
Kemenangan Atalanta bukan sekadar hasil, melainkan bukti karakter tim yang pantang menyerah. Mereka menunjukkan bahwa determinasi dan keberanian bisa mengalahkan nama besar. Dari tim yang sering dianggap kuda hitam, Atalanta kini menjelma menjadi harapan Italia di Liga Champions.
Hasil ini sekaligus menegaskan betapa kerasnya kompetisi Eropa. Inter dan Juventus, dengan segala sejarah dan reputasi, tumbang di hadapan lawan yang lebih siap. Sementara Atalanta, dengan semangat kolektif, berhasil menulis kisah heroik. Liga Champions memang selalu menghadirkan kejutan, dan kali ini Serie A harus menerima kenyataan pahit.
Kini, Atalanta akan menunggu undian babak 16 besar. Siapa pun lawan yang akan mereka hadapi, satu hal pasti: mereka sudah membuktikan diri sebagai tim yang layak diperhitungkan. Sementara itu, Inter dan Juventus harus kembali ke Serie A dengan luka yang dalam, mencoba bangkit dari kegagalan di panggung Eropa.
Babak play-off ini menjadi cermin bahwa sepak bola bukan hanya soal nama besar, melainkan juga soal mental, strategi, dan keberanian. Atalanta telah menunjukkan semua itu, sementara Inter dan Juventus harus belajar dari kegagalan mereka. Liga Champions musim ini kembali menegaskan: tidak ada jalan mudah menuju kejayaan.(Sjs_kongkow)